AL-QUR’AN

Blogger Tags: islam, ibadah, agamaislam, ibadah, agama
Al-Quran yang secara harfiah berarti “bacaan sempurna” merupakan suatu nama pilihan Allah yang sungguh tepat, karena tiada satu bacaan pun sejak manusia mengenal tulis baca lima ribu ta hun yang lalu yang dapat menandingi Al-Quran Al-Karim, bacaan sempurna lagi mulia itu.
Tiada bacaan semacam Al-Quran yang dibaca oleh ratusan juta orang yang tidak mengerti artinya dan atau tidak dapat menulis dengan aksaranya. Bahkan dihafal huruf demi huruf oleh orang dewasa, remaja, dan anak-anak.
Tiada  bacaan  melebihi  Al-Qur an dalam perhatian yang diperolehnya, bukan saja sejarahnya secara umum, tetapi ayat demi ayat, baik dari segi masa, musim, dan saat turunnya, sampai kepada sebab-sebab serta waktu-waktu turunnya.
Tiada bacaan seperti Al-Quran yang dipelajari bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan kosakatanya, te tapi juga kandungannya yang tersurat, tersirat bahkan sampai kepada kesan yang ditimbulkannya. Semua dituangkan dalam jutaan jilid buku, generasi demi generasi. Kemudian apa yang dituangkan dari  sumber  yang tak  pernah kering itu, berbeda- beda  sesuai  dengan  perbedaan  kemampuan  dan kecenderungan mereka, namun semua mengandung kebenaran. Al-Quran laya knya sebuah permata yang memancarkan cahaya yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang masing-masing.
Tiada  bacaan  seperti  Al-Quran  yang diatur tatacara membacanya, mana yang dipendekkan, dipanjangkan, dipertebal atau diperhalus ucapannya, di mana tempat yang terlarang, atau boleh, atau harus memulai dan berhenti, bahkan diatur lagu dan iramanya, sampai kepada etika membacanya.
Tiada bacaan sebanyak kosakata Al-Quran yang berjumlah 77.439 (tujuh puluh tujuh ribu empat ratus tiga puluh sembilan) kata, dengan jumlah huruf 323.015 (tiga ratus dua puluh tiga ribu lima belas) huruf yang seimbang jumlah kata-katanya, baik antara kata dengan padanannya, maupun kata dengan lawan kata dan dampaknya.

<!– google_ad_client = "ca-pub-3949411386651880"; /* Perangkat Lunak */ google_ad_slot = "4177456020"; google_ad_width = 468; google_ad_height = 60; // 

Sebagai contoh – sekali lagi sebagai contoh- kata  hayat terulang sebanyak antonimnya maut, masing-masing 145 kali; akhirat terulang 115 kali sebanyak kata  dunia;  malaikat terulang  88  kali  sebanyak  kata  setan; thuma’ninah (ketenangan) terulang  13  kali  sebanyak  kata  dhijg (kecemasan); panas terulang 4 kali sebanyak kata dingin.
Kata infaq  terulang sebanyak kata yang menunjuk dampaknya yaitu ridha (kepuasan) masing-masing  73 kali; kikir  sama dengan akibatnya yaitu penyesalan masing-masing 12 kali; zakat sama dengan  berkat  yakni  kebajikan  melimpah, masing-masing  32 kali. Masih amat banyak keseimbangan lainnya, seperti kata yaum (hari) terula ng sebanyak 365, sejumlah  hari-hari  dalam setahun, kata  syahr (bulan) terulang 12 kali juga sejumlah bulan-bulan dalam setahun.
Demikian “Allah menurunkan kitab Al-Quran dengan penuh kebenaran dan keseimbangan (QS Al-Syura [42]: 17).”Adakah suatu bacaan ciptaan makhluk seperti itu? Al-Quran menantang: “Katakanlah, Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk menyusun semacam Al-Quran ini, mereka tidak akan berhasil menyusun semacamn ya walaupun mereka bekerja sama” (QS Al-Isra,[17]: 88).
Orientalis H.A.R. Gibb pernah menulis bahwa:  “Tidak ada seorang  pun dalam seribu lima ratus tahun ini telah memainkan ‘alat’ bernada nyaring yang demikian mampu dan berani, dan demiki an luas getaran jiwa yang diakibatkannya, seperti yang dibaca Muhammad (Al-Quran).” De mikian terpadu dalam  Al-Quran  keindahan  bahasa,  ketelitian,  dan keseimbangannya, dengan kedalaman makna,  kekayaan  dan kebenarannya, serta ke mudahan pemahaman dan kehebatan kesan yang ditimbulkannya.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah, Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya” (QS Al-‘Alaq [96]: 1-5). Mengapa iqra, merupakan perintah pertama yang ditujukan ke pada Nabi, padahal beliau seorang ummi (yang tidak pandai membaca dan menulis)? Mengapa demikian?
Iqra’ terambil dari akar kata yang berarti  “menghimpun,” sehingga tidak selalu harus diartikan “membaca teks tertulis dengan aksara tertentu.” Dari “menghimpun” lahir  aneka  ragam  makna,  seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti mengetahui ciri sesuatu dan membaca, baik teks
tertulis maupun tidak.
Iqra’ (Bacalah)! Tetapi apa yang harus dibaca?  “Ma aqra’?” tanya Nabi -dalam suatu riwayat- setelah beliau kepayahan dirangkul dan diperintah membaca oleh malaikat Jibril a.s. Pertanyaan itu tidak dijawab, karena Allah menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja, selama bacaan tersebut Bismi Rabbik; dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan.
Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, bacalah tanda-tanda zaman, sejarah, di ri sendiri, yang tertulis dan tidak
tertulis. Alhasil objek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya.
Demikian terpadu dalam perintah ini segala macam cara yang dapat ditempuh manusia untuk meningkatkan kemampuannya. Pengulangan perintah membaca dala m wahyu pertama ini, bukan sekadar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak diperoleh kecuali mengulang-ulangi bacaan, atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan, tetapi juga untuk mengisyar atkan bahwa mengulang-ulangi bacaan Bismi Rabbika (demi karena  Allah)  akan  menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru walaupun yang dibaca itu-itu juga. Mengulang-ulang membaca ayat Al-Quran menimbulkan penafsiran baru, pengembangan gagasan, dan menambah kesu cian jiwa serta kesejahteraan batin. Berulang-ulang  “membaca”  alam raya, membuka  tabir rahasianya dan memperluas wawasan serta me nambah kesejahteraan lahir. Ayat Al-Quran yang kita baca dewasa ini tak sedikit pun berbeda dengan ayat Al-Quran yang dibaca Rasul dan generasi terdahulu. Alam raya pun demikian, namun  pemahaman,  penemuan rahasianya, serta limpahan kesejahteraa n-Nya terus berkembang, dan itulah pesan yang dikandung  dalam Iqra’ wa Rabbukal akram  (Bacalah dan Tuhanmulah yang paling Pemurah). Atas  kemurahan-Nyalah kesejahteraan demi kesejahteraan tercapai.
Sungguh, perintah membaca merupakan sesuatu yang paling berharga yang pernah dan dapat diberikan kepada  umat manusia.  “Membaca” dalam aneka maknanya adalah syarat pertama dan utama pengembangan ilmu dan teknologi, serta syarat utama membangun perada ban. Semua peradaban yang berhasil bertahan lama, justru dimulai dari satu kitab (bacaan). Pera daban Yunani di mulai dengan Iliad karya Homer pada abad ke-9 sebelum Masehi. Ia berakhir dengan hadirnya Kitab Perjanjian Baru. Peradaban Eropa dimulai dengan karya Newton (1641-1727) dan berakhir de ngan filsafat  Hegel (1770-1831). 
Peradaban  Islam  lahir  dengan kehadiran Al-Quran. Astaghfirullah menunjuk masa akhirnya, karena kita yakin bahwa ia tidak akan lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan, selama umatnya ikut bersama Allah memeliharanya “Sesungguhnya Kami (Allah bersam a Jibril yang diperintahNya) menurunkan Al-Quran, dan Kami (yakni Allah dengan keterlibatan manusia) yang memeliharanya” (QS Al-Hijr [15]: 9). Pengetahuan dan peradaban yang dirancang oleh Al-Quran adalah pengetahuan terpadu yang melibatkan akal dan kalbu dalam perolehannya. Wahyu pertama Al-Quran menjelaskan dua cara pero lehan dan pengembangan ilmu.
Berikut keterangannya.
Setiap pengetahuan memiliki subjek dan objek. Secara umum subjek dituntut berperan guna  memahami  objek.  Namun pengalaman  ilmiah  enunjukkan 
bahwa  objek terkadang memperkenalkan di rinya kepada subjek tanpa usaha  sang subjek.  Komet Halley, memasuki cakrawala, hanya sejenak setiap 76
tahun . Dalam kasus ini, walaupun para as tronom menyiapkan  diri  dan alat-alatnya untuk mengamati dan menge nalnya, tetapi sesungguhnya yang lebih
berperan adalah kehadiran komet itu sendiri untuk memperkenalkan diri. Wahyu, ilham, intuisi, atau firasat yang diperoleh manusia yang siap dan suci jiwanya atau apa yang diduga sebagai “kebetulan” yang dialami oleh ilmuwan yang tekun, kesemuanya tidak lain kecuali bentuk-bentuk pengajaran Allah yang dapat dianalogikan dengan kasus komet di at as. Itulah pengajaran tanpa qalam yang ditegaskan wahyu pertama ini. “Allah mengajar dengan pena (apa yan g telah diketahui manusia sebelumnya), dan mengajar manusia (tanpa pena) apa yang belum ia ketahui” (QS Al-‘Alaq [96]: 4-5) Sekali lagi terlihat betapa Al-Quran sejak dini memadukan usaha dan pertolongan Allah, akal dan kalbu, pikir dan zikir, iman dan ilmu. Akal tanpa kalbu menjadikan manusia seperti robot, pikir tanpa zikir menjadikan manusia seperti setan. Iman tanpa ilmu sama dengan pelita di tangan bayi, sedangkan ilmu tanpa iman bagaikan pelita di tangan pencuri.
Al-Quran  sebagai  kitab  terpadu,  menghadapi,  dan memp erlakukan  peserta  didiknya dengan  memperhatikan keseluruhan unsur manusiawi, jiwa, akal, dan jasmaninya. Ketika Musa a.s. menerima wahyu Ilahi, yang menjadikan beliau tenggelam dalam situasi spiritual, Allah menyentaknya dengan pertanyaan yang berkaitan dengan kondisi material: “Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?” (QS Thaha [20]: 17). Musa sadar sambil menjawab, “Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya dan memukul (daun) dengannya untuk kambingku, disampingkeperluan-keperluan lain” (QS Thaha [20]: 18).
Di sisi lain, agar peserta didiknya tidak larut dalam alam material, Al-Quran menggunakan benda-benda alam, sebagai tali penghubung untuk mengingatkan manusia akan kehadiran Allah Swt. dan bahwa segala sesuatu yang teriadi –sekecil apa pun- adalah di bawah kekuasaan, pe ngetahuan,  dan pengaturan Tuhan Yang Mahakuasa.
“Tidak sehelai daun pun yang gugur kecu ali Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bum i, tidak juga sesuatu yang basah atau kering kecuali tertulis dalam Ki tab yang nyata (dalam jangkauan pengetahuannya)” (QS Al-An’am [6]: 59). “Bukan kamu yang melempar ketika kau melempar, tetapi Allah-lah (yang menganugerahkan kemampuan sehingga) kamu mampu melempar” (QS Al-Anfal [8]: 17).
Sungguh, ayat-ayat Al-Quran merupakan serat yang membentuk tenunan kehidupan Muslim, serta benang yang menjadi rajutan jiwanya. Karena itu seringkali pada saat Al-Quran berbicara tentang satu  persoalan menyangkut satu dimensi atau aspek tertentu, tiba-tiba ayat lain muncul berbicara tentang aspek atau dimensi lain yang secara sepintas terkesan tidak saling berkaitan. Tetapi bagi orang yang tekun mempelajarinya akan menemukan keserasian hubungan yang amat mengagumkan, sama dengan keserasian hubungan yang me madukan gejolak  dan bisikan-bisikan hati manusia, sehingga pada akhirnya dime nsi atau aspek yang tadinya terkesan
kacau, menjadi terangkai dan terpadu indah, bagai kalung mutiara yang tidak diketahui di mana ujung pangkalnya. Salah satu tujuan Al-Quran memilih sistematika demikian, adalah untuk mengingatkan manusia -khususnya kaum Muslimin- bahwa ajaran-ajaran Al-Quran adalah satu kesatuan terpadu yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Keharaman makanan tertentu seperti babi, ancaman terhadap yang enggan menyebarluaskan pengetahuan, anjuran bers edekah, kewajiban menegakkan hukum, wasiat sebelum mati, kewajiban puasa, hubung an suami-istri, dikemukakan Al-Quran secara berurut  dalam  belasan ayat surat Al-Baqarah. Mengapa demikian? Mengapa terkesan acak? Jawabannya antara lain adalah,  “Al-Quran menghendaki agar umatnya melaksanakan ajarannya secara terpadu.”
Tidakkah babi lebih dianjurkan untuk dihindari daripada keengganan menyebarluaskan ilmu. Bersedekah tidak pula lebih penting daripada menegakkan hukum dan keadilan. Wasiat sebelum mati dan menunaikannya tidak kalah dari berpuasa di bulan Ramadhan. Puasa dan ibadah lainnya tida k boleh menjadikan seseorang lupa pada kebutuhan jasmania hnya, walaupun itu adalah hubungan seks antara  suami-istri.
Demikian  terlihat  keterpaduan ajaran-ajarannya. Al-Quran menempuh berbagai cara  guna mengantar manusia kepada  kesempurnaan  kemanusiaannya antara la in dengan mengemukakan kisah faktual atau simbolik.  Kitab  Suci Al-Quran tidak segan mengisahkan  “kelemahan manusiawi,” namun itu digambarkannya dengan kalimat indah lagi sopan tanpa mengundang tepuk tangan, atau membangk itkan potensi negatif, tetapi untuk menggarisbawahi akibat buruk kelemahan itu,  atau menggambarkan saat kesadaran manusia menghadapi godaan nafsu dan setan. Ketika Qarun yang kaya raya memamerkan kekayaannya dan merasa bahwa kekayaannya itu adalah hasil pengetahuan dan jerih payahnya, dan setelah enggan berkali-kali mendengar nasiha t, terjadilah bencana l ongsor sehingga seperti bunyi firman Allah:
“Maka Kami benamkan dia dan hartanya ke dalam bumi”(QS Al-Qashash [28]: 81). Dan berkatalah orang-orang yang kemarin mendambakan kedudukan Qarun, “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba – hamba-Nya dan memp ersempitkannya. Kalau Allah tidak
melimpahkan karuniaNya atas kita, niscaya kita pun dibenamkannya. Aduhai benarlah tidak beruntung orang-orang yang kikir (QS Al-Qashash [28]: 82). Dalam konteks menggambarkan kelemahan manusia, Al-Quran, bahkan  mengemukakan  situasi,  langkah  konkret  dan kalimat-kalimat rayuan seorang wanita bersuami yang dimabuk cinta  oleh  kegagahan seor ang pemuda yang tinggal di rumahnya, Maksudnya, “(Setelah berulang-ulang kali merayu dengan berbagai cara terselubung). Ditutupnya semua pintu dengan amat rapat, seraya berkata (sambil menyerahkan dirinya kepada kekasihnya-se telah berdandan), “Ayolah kemari lakukan itu!” (QS Yusuf [12]: 23).
Demikian, tetapi itu sama sekali berbeda dengan  ulah sementara seniman, yang memancing nafsu dan merangsang berahi . Al-Quran menggambarkannya sebagai satu kenyataan dalam diri manusia yang tid ak harus ditutup-tutupi tetapi tidak juga dibuka  lebar,  selebar  apa  yang  sering dipertontonkan, di layar lebar atau kaca. Al-Quran kemudian menguraikan sikap dan jawaban Nabi Yusuf, anak muda yang dirayu wanita itu, juga dengan tiga al asan penolakan, seimbang dengan tiga cara rayuannya, Yang pertama dan kedua adalah, “Aku berlindung kepada Allah, sesungguhnya suamimu adalah tuanku, yang memperlakukan aku dengan baik” (QS Yusuf [12]: 23).
Yang ketiga, khawatir kedua alasan itu belum cukup. “Dan sesungguhnya tidak pernah dapat berbahagia orang yang berlaku aniaya” (QS Yusuf [12]: 23). Dalam bidang pendidikan, Al-Quran menuntut bersatunya kata dengan sikap. Karena itu, keteladanan para pendidik dan tokoh masyarakat merupakan salah satu andalannya.
Pada saat Al-Quran mewajibkan anak menghorma ti orangtuanya, pada  saat  itu pula ia mewajibkan ora ng-tua mendidik anak-anaknya. Pada saat masyarakat diwajibkan menaati Rasul dan para pemimpin, pada saat yang sama Rasul dan para pemimpin diperintahkan menunaikan amanah, menyayangi yang dipimpin sambil bermusyawarah dengan mereka. Demikian  Al-Quran   menuntut  keterpaduan  orang-tua, masyarakat, dan pemerintah. Tidak mungkin ke berhasilan dapat tercapai  tanpa keterpaduan itu. Tidak mungkin kita berhasil kalau be ban pendidikan hanya dipikul oleh satu pihak, atau
hanya  ditangani  oleh guru dan dosen tertentu, tanpa melibatkan seluruh unsur kependidikan.
Dua puluh dua tahun dua bulan dan dua puluh dua hari lamanya, ayat-ayat Al-Quran silih berganti turun, dan selama itu pula Nabi Muhammad Saw. dan para sahabatnya tekun mengajarkan Al-Quran, dan membimbing umatnya. Sehingga, pada akhirnya, mereka berhasil  membangun masyarakat yang di dalamnya terpadu ilmu dan iman, nur dan hidayah, keadilan dan kemakmuran di bawah lindungan ridha dan ampunan Ilahi. Kita dapat bertanya mengapa 20 tahun lebih, baru selesai dan berh asil? Boleh jadi jawabannya dapat kita simak dari hasil pene litian seorang guru besar Harvard University, yang dilakukannya  pada  40 negara, untuk mengetahui factor kemajuan atau kemunduran negara-negara itu.
Salah satu faktor utamanya -menurut sang Guru Besar-  adalah materi bacaan dan sajian yang disuguhkan khususnya kepada generasi muda. Ditemukannya bahwa dua puluh tahun menjelang kemajuan atau kemunduran negara-negara yang ditelitinya itu, para generasi muda dibekali dengan sajian da n  bacaan tertentu. Setelah dua puluh tahun generasi muda itu berperan dalam berbagai aktivitas, peranan yang pada hakikatnya diarahkan oleh kandungan bacaan dan sajian yang disuguhkan itu. Demikian dampak bacaan, terlih at setelah berlalu dua puluh tahun, sama dengan lama turunnya Al-Quran.
Kalau demikian, jangan menunggu dampak bacaan terhadap anak-anak kita kecuali 20 tahun kemudian. Siapa pun boleh optimis atau pesimis, tergantung dari penilaian tentang bacaan dan sajian itu. Namun kalau melihat kegairahan anak-anak dan remaja membaca Al-Quran, serta kegairahan umat mempelajari kandungannya, maka kita wajar optimis, karena kita sepenuhnya yakin bahwa keberhasilan Rasul dan generasi terdahulu dalam membangun peradaban Islam yang jaya selama sekitar delapan ratus tahun,  adalah karena Al-Quran yang mereka baca dan hayati mendorong pengembangan ilmu  dan teknologi, serta kecerahan pikiran dan kesucian hati.
Kita wajar optimis, melihat kesungguhan pe merintah menangani pendidikan, serta tekadnya mencanangkan wajib belajar. Ayat “wa tawashauw bil haq” dalam QS Al-‘Ashr [103]: 3 bukan saja  mencanangkan  “wajib belajar” tetapi juga “wajib mengajar.”  Bukankah tawashauw berarti saling  berpesan, saling mengajar, sedang al-haq atau kebenaran adalah hasil pencarian ilmu? Mencari ke baikan  menghasilkan  akhlak, mencari keindahan menghasilkan seni, dan mencari kebenaran menghasilkan ilmu. Ketiga unsur itulah yang menghasilkan sekaligus mewarnai suatu peradaban.
Al-Quran yang sering kita peringati nuzulnya ini bertujuan antara lain:
  1. Untuk membersihkan akal dan menyucikan jiwa dari segala bentuk syirik serta memantapkan keyakinan tentang keesaan ya ng sempurna bagi Tuhan seru sekalian alam, keyakinan yang tidak semata-mata sebagai suatu konsep teologis, tetapi falsafah hidup dan kehidupan umat manusia. Untuk mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab yakni bahwa umat manusia merupakan suatu umat yang seharusnya dapat bekerja sama dalam pengabdian kepada Allah dan pelaksanaan tugas kekhalifahan.
  2. Untuk menciptakan persatuan dan kesatuan, bukan saja antar suku atau bangsa, tetapi kesatuan alam semesta, kesatuan kehidupan dunia dan akhirat, natural dan supranatural, kesatuan ilmu, iman, dan rasio, kesatuan kebenaran, kesatuan kepribadian manusia, kesatuan kemerdekaan dan determinisme, kesatuan sosial, politik dan ekonomi, dan kesemuanya berada di bawah sa tu keesaan, yaitu Keesaan Allah Swt.
  3. Untuk mengajak manusia berpikir dan bekerja sama dalam bidang kehidupan bermasyarakat dan bernegara melalui musyawarah dan mufakat yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan.
  4. Untuk membasmi kemiskinan material dan spiritual, kebodohan, penyakit, dan penderitaan hidup, serta pemerasan manusia atas manusia, dalam bidang sosial, ekonomi, politik, dan juga agama.
  5. Untuk memadukan kebenaran dan keadilan dengan rahmat dan kasih sayang, dengan menjadikan keadilan sosial sebagai landasan pokok kehidupan masyarakat manusia.
  6. Untuk memberi jalan tengah antara falsafah monopoli kapitalisme dengan falsafah kolektif komunisme, menciptakan ummatan wasathan yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran.
  7. Untuk menekankan peranan ilmu dan teknologi, guna menciptakan satu peradaban yang sejalan dengan jati diri manusia, dengan panduan dan paduan Nur Ilahi.
Demikian sebagian tujuan kehadiran Al-Quran, tujuan yang tepadu dan menyeluruh, bukan sekadar mewajibkan pendekatan religius yang bersifat ritual atau mistik, yang dapat menimbulkan formalitas dan kegersangan. Al-Quran adalah petunjuk-Nya yang bila dipelajari akan membantu  kita  menemukan  nilai-nilai  yang dapat dijadikan pedoman bagi penyelesaian berbagai problem hidup.  Apabila dihayati dan diamalkan akan menjadikan pikiran, rasa, dan karsa kita mengarah kepada realitas keimanan  yang  dibutuhkan  bagi  stabilitas  dan ketenteraman hidup pribadi dan masyarakat Itulah Al-Quran dengan gaya bahasanya  yang merangsang akal dan menyentuh rasa, dapat menggugah kita menerima dan memberi ka sih dan keharuan cinta, sehingga dapat mengarahkan kita untuk memberi sebagian dari apa yang kita miliki untuk kepentingan dan kemaslahatan umat manusia. Itulah Al-Quran yang ajarannya te lah merupakan kekayaan spiritual bangsa kita, dan yang telah tumbuh subur dalam negara kita.

Sumber:

WAWASAN AL-QURAN 
Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat 
Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
Iklan
By kusmadi Posted in Agama

Orang baik akan berkomentar yang baik

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s